Strategi Minyak Nabati

RI dan Pakistan Susun Strategi Minyak Nabati Perkuat Ketahanan Pangan

RI dan Pakistan Susun Strategi Minyak Nabati Perkuat Ketahanan Pangan
RI dan Pakistan Susun Strategi Minyak Nabati Perkuat Ketahanan Pangan

JAKARTA -  Upaya memperkuat ketahanan pangan jangka panjang menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dan Pakistan.

Pemerintah Indonesia menilai kerja sama lintas negara, khususnya di sektor minyak nabati, menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ketidakpastian rantai pasok pangan dunia.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti melakukan pertemuan dengan Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari yang juga menjabat sebagai Anggota Majelis Nasional (MNA). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada 8–9 Desember tahun lalu, yang membuka ruang penguatan hubungan bilateral kedua negara, khususnya di bidang ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam pertemuan tersebut, Roro menyoroti berbagai peluang kerja sama ekonomi yang dapat dikembangkan bersama, salah satunya pada sektor produksi minyak nabati (edible oil). Selain itu, pembahasan juga mencakup potensi investasi lintas negara, pengembangan rantai nilai, serta strategi jangka panjang dalam menjaga ketahanan pangan nasional masing-masing negara.

“Kami melihat adanya potensi besar untuk memperluas kolaborasi ekonomi kedua negara, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga investasi dan penguatan rantai nilai yang mendukung ketahanan pangan jangka panjang,” kata Roro.

Menurut Roro, kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Pakistan dapat memberikan manfaat strategis bagi kedua belah pihak, mengingat kedua negara memiliki peran penting dalam rantai pasok pangan regional. Ia menilai penguatan sektor minyak nabati menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap sumber pangan yang berkelanjutan dan terjangkau.

Selain membahas sektor pangan, Roro juga mendorong pengembangan kerja sama perdagangan yang lebih komprehensif. Ia menyampaikan dorongan agar perjanjian perdagangan preferensial Indonesia–Pakistan (IP-PTA) dapat ditingkatkan statusnya menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pasar dan memberikan kepastian usaha yang lebih besar bagi pelaku bisnis di kedua negara.

Menurutnya, peningkatan status perjanjian perdagangan tersebut akan memperkuat iklim investasi dan membuka peluang kolaborasi baru di berbagai sektor strategis. Dengan kerangka kerja sama yang lebih luas, dunia usaha Indonesia dan Pakistan diharapkan dapat mengembangkan kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.

Dalam diskusi yang berlangsung, isu perubahan iklim juga menjadi salah satu topik penting. Roro menegaskan bahwa tantangan iklim global turut memengaruhi ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, ia menyampaikan ketertarikan Indonesia untuk mempelajari pengalaman Pakistan, khususnya dari Provinsi Sindh, dalam membangun perumahan yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim.

Roro menyoroti pembangunan hunian pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut pada 2022 sebagai contoh praktik yang dapat dijadikan pembelajaran. Menurutnya, pengembangan hunian yang adaptif terhadap risiko iklim merupakan bagian penting dari strategi ketahanan nasional, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.

Tak hanya itu, Roro juga menyoroti kebijakan kepemilikan rumah atas nama perempuan kepala keluarga yang diterapkan di Pakistan. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai langkah progresif yang sejalan dengan agenda pemberdayaan perempuan dan inklusi sosial.

“Membangun hunian yang tangguh terhadap iklim sekaligus memastikan kepemilikan rumah atas nama perempuan adalah langkah nyata dari pemerintah terhadap perempuan,” ungkap Roro.

Sementara itu, Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari menyambut baik berbagai rencana strategis yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Ia menyatakan kesiapan Pakistan untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia, terutama dalam sektor-sektor yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Menurut Aseefa, hubungan Indonesia dan Pakistan memiliki kedekatan historis dan keterkaitan leluhur yang menjadikan kerja sama bilateral terasa lebih bermakna. Ia menilai kedekatan tersebut dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam mempererat kolaborasi di berbagai bidang.

Dalam kesempatan yang sama, Aseefa turut menyampaikan ungkapan duka cita dan simpati atas bencana banjir dan tanah longsor yang baru-baru ini terjadi di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra. Ia menyampaikan rasa empati kepada keluarga korban dan mendoakan kesembuhan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Selain itu, Aseefa juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial melalui program Makan Bergizi Gratis bagi anak-anak dan ibu hamil. Menurutnya, program tersebut mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak dini.

“Pakistan turut mengejar tujuan serupa melalui program unggulan seperti Benazir Income Support Programme,” pungkas Aseefa.

Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen Indonesia dan Pakistan untuk memperkuat kemitraan strategis di tengah tantangan global. Melalui kerja sama di sektor pangan, perdagangan, perubahan iklim, dan pemberdayaan sosial, kedua negara berharap dapat membangun fondasi ketahanan ekonomi dan sosial yang lebih kuat untuk jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index